Minggu, 13 Maret 2011

Jepang dan Mitigasi Tsunami (1)

___________________________________________________
'First of all, my deepest condolences to all the victims and relatives who have lost their lives and belongings due to this mega earthquake and tsunami'
’ Turut berbela sungkawa yang sedalam-dalamnya kepada seluruh korban bencana gempa dan tsunami’
_________________________________________________
Belajar dari pengalaman yang digabung dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, Jepang sudah menerapkan berbagai cara untuk meminimalkan kerusakan akibat tsunami (mitigasi tsunami). Di wilayah pantai timur Tohoku, pantai Iwate dan Miyagi yang mengalami kerusakan parah akibat tsunami 11 Maret 2011 cara structural dan non structural sudah diterapkan untuk mengurangi efek kerusakan tsunami. Apa saja yang sudah dilakukan mereka, berikut adalah beberapa di antaranya:

1. Mitigasi non-struktural

1.1. Relokasi warga dari wilayah beresiko tinggi tsunami
Sejak kejadian tsunami Meiji-Sanriku 1896, para pemuka masyarakat jepang sudah mengnajrkan masyarakat yang tinggal di daerah bahaya tsunami (daerah pantai dataran rendah) untuk pindah ke daerah-daerah yang lebih tinggi. Daerah relokasi ini dikenal sebagai Yamanouchi, kota Yamada, propinsi Iwate [1]. Relokasi juga dilakukan setelah tsunami menerjang Okushiri (Hokkaido) pada tahun 1993. Penduduk di distrik Aonae direlokasi ke daerah yang lebih aman. Sementara distrik Aonae yang ditingalkan diubah menjadi taman kota yang indah.

Gambar 1: Aonae hancur akibat tsunami 1993 [2]

Gambar 2: Aonae saat ini

1.2. Pendidikan dini
Pengetahuan tsunami sudah diajarkan orang jepang sejak usia dini, baik itu di rumah maupun di sekolah. Bahkan, sejak bencana tsunami di abad 9M (Jogan tsunami), berbagi dongeng, legenda dan cerita rakyat sudah banyak bermunculan yang selalu mengingatkan masyarakat jepang untuk senan tiasa waspada akan bahaya tsunami. Pembangunan monumen tsunami juga merupakan bagian dari pendidikan kepada masyarakt tentang bahya tsunami.

Tabel 1: Dongeng dan legenda berkaitan dengan tsunami sejak masa Jogan tsunami [3]

Gambar 3: Monumen tsunami di pantai Sanriku

1.3. Manajemen Evakuasi
Kedatangan tsunami sering kali tidak dapat diprediksi, berlangsung cepat, tak tertahan dan tidak mengenal waktu. Di setiap daerah yang terancam dengan tsunami sudah banyak dipasang rambu-rambu peringatan tsunami dan rute-rute evakuasi menuju ke daerah yang lebih tinggi atau ke bangunan-bangunan khusus yang diperuntukan untuk perlindungan tsunami. Rambu-rambu ini dipasang di tempat-tempat strategis, di aspal jalan, tempat-tempat umum dan bahkan di kantor-kantor pemerintahan.

Gambar 4: Petunjuk arah evakuasi tsunami

Gambar 5: Bangunan yang khusus diperuntukan untuk evakuasi tsunami

1.4. Tsunami warning system (TWS)
Sejak bencana tsunami Chile 1960, Jepang dan beberapa negara di samudera pasifik sudah membangun system peringatan dini tsunami. Badan meteorology Jepang (JMA, Japan Meteorological Agency) bertanggung jawab dalam mengeluarkan peringatan dini tsunami. Setiap tahun, waktu yang dibutuhkan untuk mengelurkan peringatan dini (elapsed time) dipersingkat (Gambar 7). Saat ini, JMA bisa mengelurkan peringatan tsunami 3 menit setelah gempa terjadi. Hal ini bisa dilakukan berkat terpasangnya 180 seismometer di pulau-pulau jepang dan sekitarnya yang bisa mentransfer data secara real time.

Gambar 6: Pengeras suara merupakan salah satu sarana peringatan tsunami dini.

Gambar 7: Elapsed time untuk system peringatan dini [4]

Gambar 8: Jaringan seismometer di Jepang [4]

Memang, sangat sulit dibayangkan bahwa Jepang yang memiliki kesiapan sedemikian rupa dalam mencegah kerusakan akibat tsunami terlihat tidak berdaya saat Tsuanmi Sendai 2011 kembali menghantam propinsi Miyagi dan Iwate. Memang, dilihat dari besarnya magnitude gempa, tsunami kali ini benar-benar luar biasa setara dengan tsunami yang menghantam Aceh dan negara-negara lain di samudera India.
 pada bagian 2, akan dibahas kesiapn jepang memitigasi tsunami dengan cara struktural.

(Bersambung ke bagian 2...)



Daftar pustaka:

1. Diposaptono S & Budiman (2008): Hidup akrab dengangempa dan tsunami, Sarana komunikasi utama, Bogor.
2. http://nctr.pmel.noaa.gov/okushiri_devastation.html
3. Sugawara, D., & Imamura, F (2010): ‘Geological and historical traces of the 869 Jogan tsunami’, Field guide of Half-day field trip in Sendai, the 3rd ITFS Sendai.
4. JMA (2006): tsunami warning system in Japan, http://media.hotnews.ro/media_server1/document-2011-03-11-8380811-0-sistemul-japonez-avertizare-caz-tsunami.pdf

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar