Jumat, 18 Februari 2011

Peran pohon/hutan pantai

Hutan pantai/pesisir memegang peranan penting baik itu dalam hal menjaga keseimbangan ekosistem pantai maupun kehidupan sosial-ekonomi masyarakat sekitarnya.   Ekosistem hutan pantai sangat kaya, sehingga tidak heran kalau hutan pantai bisa memberikan keuntungan ekonomi bagi masyarakat sekitarnya, tentunya dengan pengelolaan yang bijaksana dan berkesinambungan. Selain sebagai sumber makanan, sumber bahan obat-obatan, bahan bangunan, arang, tempat berkembang biak ikan, dan menahan erosi pantai, hutan pantai juga bisa berfungsi sebagai hutan wisata (contohnya hutan lindung di pantai pangandaran).

Gambar 1: Hutan lindung pananjung, Pantai Pangandaran, Jawa Barat [1]

Di Asia Tenggara (contohnya di Indonesia, Malaysia, Filipina), salah satu tumbuhan hutan pesisir, pohon bakau ditanam secara komersial untuk berbagai macam produk seperti arang, kayu, dsb. Spesies bakau yang umum ditanam untuk keperluan komersial di antaranya adalah bakau merah (Rhizophora apiculata). Di hutan seperti ini, tumbuhannya homogen (sejenis), lingkungannya diatur, dan pohonnya dipanen secara berkala. Dibandingkan dengan hutan alami, secara umum, pohon-pohon yang ditanam dengan sengaja tumbuh lebih cepat [2].

Gambar 2: hutan bakau di Filipina yang sengaja ditanam untuk industri [3]

 Seperti hal nya pohon bakau, salah satu jenis pohon di hutan pantai, cemara laut juga sudah banyak dimanfaatkan tidak hanya untuk bahan bangunan (kayu) tapi juga untuk keperluan lainnya seperti pelindung panas, keindahan, dan perlindungan pantai dari erosi.

Gambar 3: Pohon cemara laut, digunakan untuk keindahan dan tempat pelindung panas di Pantai Semarang [4]

Akhir-akhir ini, hutan pantai juga dianggap sebagai salah satu upaya mitigasi bencana alam ekstrim seperti tsunami dan badai gelombang. Hutan pantai secara umum memang teradaptasi dengan baik untuk menahan angin kencang, badai, dan juga semburan garam (salt sprays). Namun, kemampuanyya untuk menahan gelombang raksasa tsunami masih dalam perdebatan di antara para peneliti. Beberapa laporan, survey, dan juga publikasi ilmiah menyebutkan bahwa benar hutan pantai mampu mereduksi hantaman tsunami. Temuan ini berdasarkan data lapangan, catatan kerusakan dan observasi satelit yang cenderung menunjukkan gejala ke arah tersebut (kerusakan minimum karena ada hutan pantai) [6][7][8]. Dan temuan ini pun didukung oleh temuan lainnya berdasarkan percobaan laboratorium ataupun model numerik yang menyimpulkan bahwa memang benar hutan pantai mampu mengurangi dampak tsunami hingga batas tertentu [9][10][11]. Namun demikian, masih terdapat beberapa hal yang masih harus diselidiki untuk sampai pada kesimpulan tersebut. Karena, dalam kasus berbeda di beberapa tempat, hutan pantai yang sangat lebat dan dalam kondisi sehat sekalipun masih bisa diluluhlantakan oleh tsunami dan pohon-pohonnya terbawa hinga beberapa kilometer ke darat menghancurkan segala sesuatu yang dilaluinya [12][13]

Gambar 4: Kondisi hutan pantai setelah tsunami aceh tahun 2004 (a) HUtan pantai di Aceh yang rata dengan tanah [5] (b) Hutan pantai di Thailand yang dalam kondisi baik setelang diterjang tsunami 2004[13]

Terlepas dari kontroversi apakah hutan pantai mampu meredam dampak gelombang ekstrim atau tidak, keberadaan hutan pantai akan tetap selalu dibutuhkan.

Pustaka:

  1. http://masjustice.wordpress.com/2010/12/23/garis-lurus-ujung-dunia/#more-283
  2. MULIA, F., (2001): ‘Pertumbuhan tegakan dan teknik pengusahaan hutan mangrove berkelanjutan’, Accessed from: www.rimbawan.com (Indonesian)
  3. DUKE, N.C., (2006): Rhizophora apiculata, R. mucronata, R. stylosa, R. × annamalai, R. × lamarckii (Indo–West Pacific stilt mangroves), ver. 2.1. In: Elevitch, C.R. (ed.). Species Profiles for Pacific Island Agroforestry. Permanent Agriculture Resources (PAR), Hōlualoa, Hawai‘i. http://www.traditionaltree.org
  4. http://www.skyscrapercity.com/ (Indonesia Skyscrapers Forum)
  5. BAPPENAS, (2005): ‘Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah Aceh dan Nias, Sumatera Utara: Buku 1 Rencana Bidang Tata Ruang dan Pertanahan’, Jakarta, Indonesia (Indonesian).
  6. SHUTO, N., (1987): ‘The effectiveness and limit of tsunami control forests’, Coastal Engineering in Japan 30: 143-153
  7. DAHDOUH-GUEBAS, F., L.P. JAYATISSA, D. DI NITTO, J.O. BOSIRE, D. LO SEEN & N. KOEDAM, (2005): ‘How effective were mangroves as a defence against the recent tsunami ?’ Current Biology 15(12): R443-447
  8. UNEP (2005): ‘After the tsunami - Rapid Environmental Assessment. Thailand’, pp. 301-304
  9. ISTIYANTO, D.C., UTOMO K.S., & SURANTO, (2003): ‘Pengaruh Rumpun Bakau Terhadap Perambatan Tsunami di Pantai’, Seminar Mengurangi Dampak Tsunami: Kemungkinan Penerapan Hasil Riset, BPPT – JICA, 11 March 2003, Yogyakarta (Indonesian)
  10. HIRAISHI, T., & HARADA, K., (2003): ‘Greenbelt Tsunami Prevention in South-Pacific Region’. Report of the Port and Airport Research Institute, 42, 1–23
  11. LATIEF, H., & HADI, S., (2006): ‘Protection from Tsunamis, Coastal Protection in the Aftermath of the Indian Ocean Tsunami’: What role for forests and trees?; proceedings of the regional technical workshop, FAO, Khao Lak, Thailand.
  12. EJF, (2006): ‘Mangroves: Nature's defence against Tsunamis - A report on the impact of mangrove loss and shrimp farm development on coastal defences’. Environmental Justice Foundation, London, UK, pp. 30.
  13. http://www.sciencealert.com.au/news/20100401-20451.html
  14. FAO/MOAC, (2005): ‘Report of Joint FAO/MOAC Detailed Technical Damages and Needs Assessment Mission in Fisheries and Agriculture Sectors in Tsunami Affected Six Provinces in Thailand 11-24 January 2005’, Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) in cooperation with Ministry of Agriculture and Cooperatives (MOAC) Thailand.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar